Peran Bahasa Dalam Pelestarian Budaya Lokal: Studi Kasus Pada Komunitas Adat Di Indonesia
DOI:
https://doi.org/10.69688/mouse.v2i2.262Keywords:
bahasa daerah, pelestarian budaya, komunitas adat, identitas lokal, IndonesiaAbstract
Bahasa merupakan salah satu elemen utama dalam menjaga dan mewariskan budaya lokal dari generasi ke generasi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis peran strategis bahasa dalam pelestarian budaya lokal pada komunitas adat di Indonesia. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, penelitian ini menyoroti praktik penggunaan bahasa daerah dalam berbagai aktivitas budaya seperti upacara adat, cerita rakyat, musik tradisional, dan pendidikan informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahasa daerah tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai media utama dalam merekam nilai-nilai, norma, dan identitas budaya masyarakat adat. Namun, tantangan besar muncul akibat dominasi bahasa nasional dan global yang menyebabkan penurunan penutur aktif bahasa daerah, terutama di kalangan generasi muda. Oleh karena itu, pelestarian bahasa lokal menjadi bagian integral dari upaya mempertahankan keberlanjutan budaya komunitas adat. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya dukungan kebijakan pemerintah, peran aktif lembaga pendidikan, serta partisipasi komunitas dalam revitalisasi bahasa sebagai bagian dari pelestarian budaya bangsa
References
[1] N. Nur Annisa, M. Esterina, L. S. Hanafi, L. A. H. Putr, and Zulfi, “Pemanfaatan Media Sosial Bagi Pengembangan Pemasaran UMKM dan Strategi Brand Image (Logo),” Jurnal Pengabdian Kepada Masyaraka Pelita Nusantara, vol. 1, no. 2, pp. 44–49, 2023.
[2] R. Ramli and K. Kaharuddin, “Local languages in Indonesia: Threats and revitalization strategies,” J. Lang. Linguist. Stud, vol. 17, no. S1, pp. 472-484, 2021.
[3] N. D. Nirmala and A. Hendrawan, “Bahasa dan budaya dalam masyarakat adat: Studi kasus pada komunitas Baduy,” J. Antropol. Indones, vol. 43, no. 1, pp. 51-66, 2022.
[4] A. M. Yusuf and H. J. Waluyo, “Preservation of Toraja local language through funeral ritual discourse,” Int. J. Linguist. Cult, vol. 2, no. 2, pp. 88-102, 2021.
[5] S. Suparman, “The shift of Sundanese language among Baduy community in the digital era,” J. Soc. Sci. Res, vol. 9, no. 1, pp. 45-58, 2023.
[6] M. R. Syarifuddin, “Digitalization of regional languages: A case study of Toraja language preservation,” J. Digit. Cult. Humanit, vol. 3, no. 1, pp. 12-25, 2024.
[7] H. Budiman, “Tantangan pelestarian bahasa ibu pada generasi Z di komunitas adat Banten,” J. Budaya Nusant, vol. 5, no. 2, pp. 110-124, 2022.
[8] A. P. Setiawan, “Metode revitalisasi bahasa daerah berbasis komunitas di Indonesia Timur,” J. Penelit. Bhs, vol. 11, no. 3, pp. 201-215, 2023.
[9] L. T. Rante, “Ritual Rambu Solo’ sebagai media transmisi linguistik bagi pemuda Toraja,” J. Tradisi dan Budaya, vol. 6, no. 4, pp. 331-345, 2021.
[10] K. Kusnadi and I. Irawan, “The role of Jaro in maintaining Baduy language purity,” Indones. J. Anthropol, vol. 7, no. 1, pp. 88-97, 2024.
[11] S. Sastrawan, “Impact of national language dominance on indigenous scripts in Indonesia,” Global J. Lang. Soc. Sci, vol. 4, no. 2, pp. 15-29, 2022.
[12] M. H. Abdullah, “Policy analysis of local language education in South Sulawesi,” Edu-Lingua J, vol. 8, no. 1, pp. 44-59, 2025.
[13] F. R. Mansyur, “Social media and language shift in indigenous youth communities,” Interact. Commun. J, vol. 10, no. 3, pp. 210-222, 2023.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Dina Syahfitri (Author)

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

