Sitasi Referensi

Reference & Citation Guidelines

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Pelita Nusantara menggunakan gaya sitasi APA 7th Edition untuk seluruh sitasi dalam teks dan daftar pustaka. Penulis wajib memastikan bahwa seluruh sumber yang digunakan dalam artikel disitasi secara tepat, dapat diverifikasi, dan dicantumkan secara konsisten dalam daftar pustaka.

Referensi harus mendukung substansi artikel, terutama pada bagian Pendahuluan, Analisis Situasi dan Permasalahan Mitra, Metode Pelaksanaan apabila menggunakan metode atau instrumen tertentu, serta Hasil dan Pembahasan. Referensi yang digunakan harus relevan dengan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan digunakan untuk memperkuat landasan ilmiah, interpretasi hasil, serta kontribusi kegiatan.


1. Ketentuan Umum Referensi

  • Daftar pustaka hanya memuat sumber yang disitasi di dalam naskah.
  • Setiap sumber yang disitasi dalam teks wajib tercantum dalam daftar pustaka.
  • Setiap sumber yang tercantum dalam daftar pustaka wajib disitasi di dalam naskah.
  • Jumlah referensi minimal 20 sumber.
  • Sekurang-kurangnya 80% referensi berasal dari publikasi dalam lima tahun terakhir.
  • Minimal 70% referensi merupakan sumber primer, terutama artikel jurnal ilmiah.
  • Referensi harus relevan dengan topik, permasalahan mitra, metode, hasil, dan pembahasan kegiatan.
  • Referensi dengan Digital Object Identifier (DOI) atau tautan permanen diutamakan apabila tersedia.
  • Referensi disusun berdasarkan urutan alfabetis nama belakang penulis pertama.
  • Penulis disarankan menggunakan Mendeley, Zotero, EndNote, atau perangkat lunak manajemen referensi sejenis.

2. Prioritas Sumber Referensi

Penulis dianjurkan memprioritaskan sumber yang memiliki kualitas akademik dan relevansi tinggi. Jenis sumber yang dapat digunakan meliputi:

  1. artikel jurnal nasional terakreditasi;
  2. artikel jurnal internasional bereputasi;
  3. artikel jurnal ilmiah yang relevan dengan bidang pengabdian;
  4. buku ilmiah atau buku akademik;
  5. prosiding konferensi yang relevan;
  6. standar nasional atau internasional;
  7. dokumen resmi pemerintah;
  8. laporan resmi lembaga atau organisasi internasional; dan
  9. sumber resmi lainnya yang dapat diverifikasi.

Sumber yang tidak memiliki identitas yang jelas, blog pribadi, situs komersial yang tidak relevan, konten anonim, atau sumber internet yang tidak dapat diverifikasi tidak dianjurkan digunakan sebagai dasar utama argumentasi ilmiah.


3. Referensi Mutakhir

Penulis harus mengutamakan referensi yang mutakhir. Sekurang-kurangnya 80% referensi harus berasal dari publikasi lima tahun terakhir dihitung berdasarkan tahun publikasi artikel yang sedang disubmit.

Referensi yang lebih lama tetap dapat digunakan apabila merupakan sumber teoritis, konseptual, metodologis, historis, regulasi, standar, atau sumber fundamental yang masih relevan dengan pembahasan.


4. Sumber Primer

Minimal 70% daftar pustaka merupakan sumber primer, terutama artikel jurnal ilmiah yang menyajikan hasil penelitian, hasil pengabdian, data empiris, atau temuan ilmiah secara langsung.

Penulis sebaiknya tidak terlalu bergantung pada artikel ulasan, blog, berita, atau sumber sekunder apabila sumber primer yang relevan tersedia.


5. Sitasi dalam Teks

Setiap informasi, teori, konsep, data, pernyataan, metode, atau temuan yang berasal dari sumber lain harus diberikan sitasi dalam teks.

5.1 Sitasi Naratif

Nama penulis menjadi bagian dari kalimat dan tahun publikasi ditempatkan dalam tanda kurung.

Contoh:

Menurut Harris (2020), literasi digital memiliki peran penting dalam meningkatkan kapasitas masyarakat.

Untuk dua penulis:

Smith dan Johnson (2022) menunjukkan bahwa pendampingan berbasis teknologi dapat meningkatkan kompetensi masyarakat.

5.2 Sitasi Parentetik

Nama penulis dan tahun publikasi ditempatkan dalam tanda kurung.

Contoh:

Pendampingan berbasis teknologi dapat meningkatkan kompetensi masyarakat secara berkelanjutan (Smith & Johnson, 2022).

5.3 Dua Penulis

Untuk dua penulis, gunakan kata “dan” dalam sitasi naratif dan tanda & dalam sitasi parentetik.

Naratif: Smith dan Johnson (2022) menyatakan bahwa ...

Parentetik: (Smith & Johnson, 2022)

5.4 Tiga Penulis atau Lebih

Untuk sumber dengan tiga penulis atau lebih, gunakan nama belakang penulis pertama diikuti “et al.”.

Contoh:

Sianturi et al. (2024) menunjukkan bahwa pelatihan berbasis teknologi dapat meningkatkan kompetensi peserta.

Atau:

(Sianturi et al., 2024)

5.5 Beberapa Sumber dalam Satu Sitasi

Apabila satu pernyataan didukung oleh beberapa sumber, setiap sumber dapat dicantumkan dalam satu tanda kurung dan dipisahkan dengan titik koma.

Contoh:

Transformasi digital dapat meningkatkan kapasitas dan produktivitas masyarakat apabila disertai pendampingan yang memadai (Harris, 2020; Smith & Johnson, 2022; Sianturi et al., 2024).


6. Sitasi Langsung

Penggunaan kutipan langsung harus dilakukan secara terbatas dan hanya digunakan apabila redaksi asli sumber memiliki nilai penting untuk dipertahankan.

Kutipan langsung harus mencantumkan penulis, tahun, dan nomor halaman atau informasi lokasi lain yang relevan sesuai ketentuan APA 7th Edition.

Contoh: (Smith, 2022, p. 25)

Untuk artikel ilmiah, penulis dianjurkan lebih banyak melakukan parafrase secara akademik daripada menggunakan kutipan langsung secara berlebihan.


7. Parafrasa

Parafrasa berarti menyampaikan kembali gagasan dari sumber dengan menggunakan struktur kalimat dan kata-kata penulis sendiri tanpa mengubah makna aslinya.

Meskipun telah diparafrasekan, sumber tetap wajib dicantumkan melalui sitasi.

Contoh:

Pelatihan yang disertai pendampingan secara berkelanjutan dapat meningkatkan peluang penerapan keterampilan baru oleh masyarakat (Smith & Johnson, 2022).


8. Sitasi Sumber yang Sama dalam Beberapa Bagian

Sumber yang sama dapat digunakan pada beberapa bagian artikel apabila memang relevan. Namun, penulis harus memastikan bahwa sitasi digunakan untuk mendukung pernyataan yang benar-benar berkaitan dengan isi sumber tersebut.

Penulis tidak diperkenankan menggunakan satu referensi secara berlebihan hanya untuk memenuhi jumlah sitasi.


9. Daftar Pustaka

Daftar pustaka harus disusun secara alfabetis berdasarkan nama belakang penulis pertama. Format setiap sumber harus mengikuti gaya APA 7th Edition.

Daftar pustaka hanya boleh memuat referensi yang benar-benar digunakan dan disitasi dalam artikel.


10. Format Artikel Jurnal

Format umum artikel jurnal dalam APA 7th Edition adalah:

Nama Belakang, Inisial. (Tahun). Judul artikel. Nama Jurnal, volume(nomor), halaman. DOI/URL

Contoh format:

Sianturi, F., & Siregar, R. (2024). Digital literacy empowerment through artificial intelligence training for teachers. Journal of Community Engagement, 8(2), 145–158. https://doi.org/10.xxxx/xxxxx


11. Format Buku

Format umum buku:

Nama Belakang, Inisial. (Tahun). Judul buku (Edisi). Penerbit.

Contoh format:

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2023). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (6th ed.). SAGE Publications.


12. Format Bab Buku

Untuk bab dalam buku yang diedit oleh editor, penulis harus mencantumkan penulis bab, tahun, judul bab, editor buku, judul buku, halaman bab, dan penerbit sesuai format APA 7th Edition.

Format umum:

Nama Belakang, Inisial. (Tahun). Judul bab. Inisial Editor. Nama Belakang (Ed.), Judul buku (pp. xx–xx). Penerbit.


13. Format Prosiding

Prosiding konferensi dapat digunakan apabila relevan dan memiliki informasi bibliografis yang jelas.

Contoh format:

Rahman, A., & Putra, D. (2023). Digital transformation for rural communities. In Proceedings of the International Conference on Community Development (pp. 45–52). IEEE. https://doi.org/10.xxxx/xxxxx


14. Format Website atau Sumber Resmi

Website dapat digunakan terutama apabila sumber tersebut merupakan situs resmi pemerintah, lembaga internasional, organisasi resmi, atau institusi yang menyediakan informasi primer dan dapat diverifikasi.

Contoh format:

Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Indonesia 2024. https://www.bps.go.id

Penulis harus memastikan bahwa informasi pada website benar-benar berasal dari sumber resmi dan masih relevan pada saat artikel disusun.


15. DOI (Digital Object Identifier)

Apabila sebuah referensi memiliki DOI, penulis diutamakan menggunakan DOI tersebut dalam daftar pustaka.

DOI ditulis dalam bentuk tautan aktif:

https://doi.org/xxxxx

Jangan menambahkan label seperti “DOI:” sebelum tautan DOI apabila mengikuti format APA 7th Edition.


16. URL dan Tautan Permanen

Apabila sebuah sumber tidak memiliki DOI tetapi memiliki URL resmi atau tautan permanen, URL tersebut dapat dicantumkan sesuai dengan format APA 7th Edition.

Penulis harus menghindari penggunaan tautan yang berasal dari sumber sementara, tautan unduhan yang tidak stabil, atau tautan yang tidak dapat diverifikasi.


17. Sumber Pemerintah dan Organisasi Resmi

Dokumen pemerintah, laporan resmi, standar, pedoman, dan publikasi organisasi internasional dapat digunakan apabila relevan dengan kegiatan pengabdian.

Nama lembaga dapat menjadi nama penulis apabila dokumen tersebut tidak mencantumkan penulis individu.

Contoh:

Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Indonesia 2024. https://www.bps.go.id


18. Referensi dari Artikel yang Memiliki Banyak Penulis

Untuk sumber dengan banyak penulis, penulis harus mengikuti aturan APA 7th Edition mengenai pencantuman nama penulis dalam daftar pustaka. Informasi penulis tidak boleh dihilangkan secara sembarangan.

Penulis disarankan menggunakan perangkat lunak manajemen referensi untuk mengurangi kesalahan dalam penulisan nama, urutan penulis, tahun, judul, volume, nomor, halaman, dan DOI.


19. Referensi yang Tidak Dapat Diverifikasi

Penulis tidak diperkenankan memasukkan referensi yang tidak dapat diverifikasi keberadaannya. Referensi harus berasal dari sumber yang dapat ditemukan kembali melalui jurnal, penerbit, repositori resmi, lembaga pemerintah, organisasi resmi, atau sumber akademik yang kredibel.

Khusus untuk referensi yang diperoleh dengan bantuan Generative AI, penulis wajib melakukan verifikasi secara independen. AI tidak boleh dijadikan sumber referensi ilmiah kecuali memang merupakan sumber yang sedang dibahas dan dirujuk secara tepat.


20. Penggunaan Reference Manager

Penulis wajib menggunakan perangkat lunak manajemen referensi seperti:

  • Mendeley;
  • Zotero;
  • EndNote; atau
  • aplikasi manajemen referensi sejenis.

Penggunaan reference manager bertujuan menjaga konsistensi antara sitasi dalam teks dan daftar pustaka serta meminimalkan kesalahan format bibliografis.


21. Konsistensi Sitasi dan Daftar Pustaka

Sebelum mengirimkan artikel, penulis wajib melakukan pemeriksaan silang antara sitasi dalam teks dan daftar pustaka.

  • Setiap sitasi dalam teks harus ada dalam daftar pustaka.
  • Setiap referensi dalam daftar pustaka harus digunakan sebagai sitasi dalam teks.
  • Nama penulis dan tahun harus konsisten antara sitasi dan daftar pustaka.
  • Judul, volume, nomor, halaman, dan DOI harus diperiksa kembali.
  • DOI harus dapat ditelusuri apabila dicantumkan.
  • Tidak boleh terdapat referensi fiktif atau tidak dapat diverifikasi.

22. Referensi untuk Pendahuluan

Referensi pada bagian Pendahuluan harus digunakan untuk membangun state of the art, menjelaskan permasalahan, menunjukkan research gap, memperkuat urgensi kegiatan, serta menjelaskan kebaruan pendekatan yang digunakan.

Penulis tidak dianjurkan hanya menyusun daftar teori atau definisi tanpa menghubungkannya dengan permasalahan mitra dan tujuan kegiatan pengabdian.


23. Referensi untuk Hasil dan Pembahasan

Hasil kegiatan harus dibahas dengan menghubungkannya dengan teori, penelitian terdahulu, maupun hasil kegiatan pengabdian yang relevan.

Referensi digunakan untuk membantu menjelaskan mengapa hasil kegiatan terjadi, bagaimana hasil tersebut dibandingkan dengan kegiatan sebelumnya, faktor yang mendukung atau menghambat keberhasilan, serta kontribusi kegiatan terhadap penyelesaian permasalahan mitra.


24. Larangan dalam Pengelolaan Referensi

  • Tidak boleh menggunakan referensi fiktif.
  • Tidak boleh mencantumkan DOI yang tidak sesuai dengan artikel.
  • Tidak boleh mencantumkan sumber yang tidak pernah dibaca atau diverifikasi.
  • Tidak boleh memasukkan referensi hanya untuk memenuhi jumlah minimum.
  • Tidak boleh melakukan manipulasi sitasi untuk meningkatkan jumlah kutipan secara tidak wajar.
  • Tidak boleh menggunakan sumber yang tidak relevan hanya karena memiliki tahun publikasi terbaru.
  • Tidak boleh menghilangkan sumber yang relevan hanya untuk menyesuaikan hasil pembahasan dengan kesimpulan tertentu.

25. Checklist Sebelum Submission

Penulis wajib memastikan hal-hal berikut sebelum mengirimkan artikel:

  • ☐ Minimal 20 referensi telah digunakan.
  • ☐ Minimal 80% referensi berasal dari lima tahun terakhir.
  • ☐ Minimal 70% merupakan sumber primer.
  • ☐ Referensi relevan dengan topik dan kegiatan pengabdian.
  • ☐ Semua sitasi menggunakan APA 7th Edition.
  • ☐ Semua sitasi dalam teks terdapat dalam daftar pustaka.
  • ☐ Semua referensi dalam daftar pustaka telah disitasi dalam teks.
  • ☐ Daftar pustaka telah disusun secara alfabetis.
  • ☐ DOI telah diperiksa dan ditulis dalam format yang benar apabila tersedia.
  • ☐ Tidak terdapat referensi fiktif atau tidak dapat diverifikasi.
  • ☐ Metadata referensi telah diperiksa menggunakan reference manager.
  • ☐ Referensi yang digunakan untuk mendukung pembahasan benar-benar relevan dengan hasil kegiatan.

26. Pernyataan Penutup

Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Pelita Nusantara menempatkan akurasi dan integritas referensi sebagai bagian penting dari kualitas artikel ilmiah. Penulis bertanggung jawab memastikan bahwa seluruh sumber yang digunakan dapat diverifikasi, relevan, mutakhir, dan disitasi secara benar sesuai dengan APA 7th Edition.

Ketidaksesuaian antara sitasi dalam teks dan daftar pustaka, referensi yang tidak dapat diverifikasi, DOI yang tidak sesuai, atau penggunaan referensi secara tidak bertanggung jawab dapat menjadi pertimbangan dalam proses editorial dan peer review.